Changi, Our Second House

changi, T2 Lounge

Berbeda dengan cerita saya sebelumnya tentang Singa(pure)a –saya lebih suka menyebutnya demikian- .…Ini hanya sekelumit cerita saya tentang bagaimana saya mengapresiasi. Tidak saya ceritakan mungkin sisi negative, karena saya hanya ingin bercerita tentang apa yang saya apresiasi…(tentu yang bagus2 aja dong). Dan setidaknya, ada beberapa hal yang membuat saya merasa kagum atas apa yang terjadi dan apa yang masyarakat negara ini lakukan.

Pertama, adalah tentang lalu lintasnya. Jika Marsekal Chappy Hakim berkata bahwa cerminan sikap dan kepribadian suatu bangsa bisa dilihat melalui lalu lintasnya, mungkin bisa saja pernyataan itu benar. Hal yang saya kagumi dari Singapura adalah ketertiban pengemudi akan rambu lalu lintas di jalan raya. Apalagi di setiap traffic  light di semua jalan raya, dilengkapi dengan lampu khusus pejalan kaki. Semua orang berbaris rapi, berhenti, menunggu giliran menyeberang, ketika lampu penanda itu berwarna merah, yang  berarti larangan bagi pejalan kaki untuk menyeberang. Dan ketika lampu telah berubah hijau, maka para pejalan kaki boleh menyeberang. Yah, walau tidak terlalu lama waktunya, namun semua mobil dan motor berhenti dengan rapinya,berhenti di belakang garis pembatas antara kendaraan dan pejalan kaki. Sungguh suatu pemandangan lalu lintas yang rapi. Dan yang saya sangat suka dari pengemudi kendaraan di jalan raya adalah tidak `ngoyo` alias memilih berhenti ketika lampu hijau telah berubah ke kuning. Hampir semua kendaraan berlaku demikian, saya juga mengamatinya di tempat yang berbeda.

Hampir semua mobil mewah yang menghiasi jalanan, sangat tertib menaati rambu lalu lintas. Bahkan mereka tak segan untuk memberikan kesempatan dan juga senyuman kepada para pejalan kaki yang berharap diberi kesempatan untuk menyeberang walau tidak di tempat penyeberangan. Kendaraan pengguna jalan raya yang hamper 90% terdiri dari roda empat itu, menganggap pemakai jalan memiliki hak yang sama dalam menggunakan jalan raya.

Ini tentu bisa dikatakan sebagai suatu cerminan sikap atas kesadaran yang bagus yang dimiliki oleh masyarakat Singa(pure)a. Mereka senantiasa berlaku rapi dan juga menghormati orang lain dalam hal yang bahkan terkesan sederhana sekalipun.Sungguh suatu ironi bila kita menilik dengan yang terjadi di negara (*baca: yang tercinta) ini.
Hal yang kedua yang menarik perhatian saya adalah keikhlasan dalam membantu orang lain, misalnya saja membantu menunjukkan arah turis yang ada di sana. Bahkan saya sempat juga ditolong oleh seorang wanita yang menunjukkan arah yang harus saya ambil ketika ingin ke Mackenzie Road. Awalnya,saya merasa ragu menerima pertolongan wanita itu. Sebab, dia dengan nyerocosnya menjelaskan peta Singapura dan bersedia mengantarkan kami ke tempat pemberhentian taksi yang jaraknya cukup jauh dari tempat kami beridri saat itu. Saya ragu karena saya pikir dia itu semacam calo atau apalah namanya, yang kemudian minta upah atas jasa yang telah dia berikan. Dan…..olala, ternyata bukan, dia menolong kami dengan ikhlas, bahkan juga turut membantu memilihkan taksi yang baik bagi kami. What an amazing.

Lainnya, yang saya rasa juga membuat saya heran adalah ketika saya hendak pergi keliling kota dengan Mass Rapid Transit (MRT). Entah kenapa, kebanyakan orang di negeri ini mempercepat langkahnya dengan berlari-lari kecil. Mereka seperti tak ingin ketinggalan akan suatu pertandingan penting tim sepakbola kesayangan mereka. Padahal saat itu bukanlah jam – jam sibuk seperti pagi hari atau sore hari jam pulang kerja. Mungkin mereka tak ingin menyia-nyiakan waktu atau apalah saya juga tidak tahu. Namun yang jelas, ini fenomena yang cukup menarik bagi saya, entah anda.

Dan yang paling saya suka adalah banyak sekali brosur dan pamphlet yang berisi informasi tentang event atau tempat yang menarik untuk dikunjungi di seantero negeri yang berlambang kepala Singa berbadan ikan ini. Brosur itu sangat lengkap, mencantumkan tanggal event, akses transportasi yang bisa digunakan, harga tiket masuk, sejarah singkat, serta peta. Juga ditambah lagi dengan nama stasiun dan infromasi tertentu yang relevan. Semua dikemas dalam kertas yang apik dan full color. Dan…gratis tersebar dimana-mana di berbagai tempat yang memungkinkan untuk dilihat. Oh ya, satu lagi, saya juga suka system tiket transportasi yang bisa digunakan langsungan.

Bila kita membeli tiket terusan yang merupakan terbitan dari Ez-Link seharga 26 SGD, kita sudah bisa berkeliling Singa(pure)a selama sepuluh hari, tanpa membayar biaya tambahan lagi. Tiket ini bisa digunakan untuk tiga jenis kendaraan sekaligus, yaitu MRT, LRT, dan Bus. Kita hanya tinggal naik dan turun semau kita, pindah jurusan, pindah tujuan, naik-turun, tanpa harus ada charge tambahan, asalkan tidak lebih dari 10 hari. Saya jamin, anda tidak akan nyasar kalau bepergian ke negara yang tidak lebih besar dari Daerah Istimewa Yogyakarta  ini. 🙂

Yah, walau hanya beberapa saja, tapi ini sudah bisa menjadi sedikit bukti. Bahwa sumber daya manusia dan juga kebiasaan suatu negara, mampu menjadi suatu magnet wisata yang hebat. Ini juga semacam bukti bahwa dimana bumi berpijak, disitulah langit dijunjung. Bumi dimana manusianya tetap mampu mengendalikan diri,menghargai orang lain, ditengah gempuran kepentingan hidup yang semakin banyak dan juga kapitalisme yang semakin merajalela. Ini mungkin tentang pelajaran, dan mungkin juga saya harus masih belajar, bukan hanya dari Singa(pure)a saja, tapi dari siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Agar kelak menjadi sumber daya manusia yang dapat diandalkan.

Uahh,, jadi ngelantur yaa….yah, itung-itung ini obat rindu. Sekaligus juga obat penat, rehat sejenak dari perumusan tugas akhir saya yang belum juga di ACC ………

Advertisements