VIETNAM : Little Thing to Share (Negeri Perahu)

Image

This is it! Konsorsium Bus Cambodian baru saja meninggalkan pintu masuk imigrasi negara komunis ini. Welcome to Vietnam, dude! Dan saat menjelajahkan kaki pertama kali di negara ini, saya merasa senang. Sebab,  kurs rupiah lebih tinggi daripada kurs Dong (Dong=mata uang Vietnam). Yeeeyy, saya merasa menjadi orang makmur disini, sebab 20.000 Dong itu sama dengan 1 U$D, sangat jauh dibandingkan dengan rupiah yang ketika itu Rp 8.600 setara dengan 1 U$D. Glad to hear that certainly. Wah, sekali –sekali lah jadi orang kaya. (*baca : di negeri orang).

Ho Chi Minh. Yup. Tak ubahnya seperti kota Surabaya yang padat lalu lintasnya.Namun, jalanan di Vietnam tak selebar jalan raya di Surabaya. Hanya saja, kalo boleh bilang sih, jumlah perbandingan motor dan mobil di negara ini mungkin 4:1. Dan pengaturan lalu lintasnya sangat sangat (satu lagi ya)…sangat parah. Lampu hijau dinyalakan secara bersama –sama di tiga sisi. Walhasil, banyak kendaraan yang saling serobot, tidak mau mengalah, dan memainkan klakson sana – sini. Ah, saya rasa anda bisa membayangkan sendiri, betapa kisruhnya jalanan di Vietnam. Masih parah daripada ibukota negara ini. :p

Saya berkeliling kota yang tampak asri dengan berbagai taman berkeliaran di bagian tengah setiap distrik. Distrik adalah semacam penyebutan untuk suatu lingkup daerah. Kalo di Jogjam ya semacam kecamatan lah. Dan taman ini dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai aktifitas bagi warga sekitar. Baik istirahat, rekreasi, memancing di kolam taman, atau berlaih yga dan berlari. Suatu public area yang sangat bermanfaat,ajang untuk berinteraksi yang sifatnya lebih kekeluargaan, jauh dari unsur kapitalisasi, mungkin Jogja bisa mencontoh kali yaa….

Saya juga berkeliling menikmati beragam suguhan gedung ala Vietnam. Gedung yang rata – rata ramping, namun memiliki lantai lebih dari satu. Di seberang juga saya melihat Building Tower, namanya gedung  Bitexcoland Tower, yang konon katanya adalah gedung tertinggi di Ho Chi Minh City (HCMC). KBRI juga katanya tidak jauh dari sini, tapi entah saya tidak menemukannya tuh. Hehehe…Saya malah menemukan pasar tradisional yang sangat terkenal di HCMC, namanya Ben Thanh Market. Suatu pasar tradisional yang bersih, rapi, dan ramai dikunjungi oleh wisatawan. Saya membeli beberapa souvenir dan oblong disini. Barang  – barang souvenir disini kebanyakan dihiasi oleh gambar wanita petani, suatu symbol khas negara yang merupakan penghasil gandum terkemuka di dunia ini.

Setelah puas belanja, saya kemudian melanjutkan jalan – jalan, kali ini agak masuk ke sekitar  wilayah distrik 3, di dekat Lotteria,(restoran fast food yang cukup terkenal disini). Di seputaran jalan menuju Lotteria, banyak sekali toko yang berjejeran di blok ini. Dan semuanya adalah toko souvenir, sebagian besar menjual berbagai barang hasil daur ulang, seperti yang biasa kita jumpai di Indonesia.Ohya yang jelas, kalo mau wisata perang, ya pilihannya Vietnam ini….banyak banget simbol2 perang yang masih kental kerasa disini. Saya sempat takut juga akan pengaruh dari `Orange District`, orange district adalah daerah di vietnam yang masih kena dampak akibat peledakan nuklir di Vietnam, waktu perang vietnam dulu…dampaknya masih ada hingga sekarang. Mungkin vietnam, bisa dijadikan referensi kinjungan buat pembelajaran para calon tentara nasional Indonesia.

Di sudut seberang ada gedung pertunjukan yang biasa menampilkan Water Puppet Show setiap harinya. Suatu bentuk pertunjukan kesenian khas negara ini. Berupa boneka tokoh yang dimainkan di air, yang mengangkat seputar cerita asli negara ini atau cerita – cerita lain yang relevan. What an amazing show I think. Di blok sebelah juga ada war museum yang berisi meriam2 asli yang dulu digunakan ketika perang Vietnam. Dipajang secara jelas di depan pintu masuk.

Image
Yeeaahh….yang saya tidak suka dari negara ini adalah banyak dari warganya yang tidak bisa berbahasa Inggirs, sehingga saya cukup kesulitan ketika berkomunikasi. Bahkan public service,nya sekalipun, juga tak bisa berbahasa Inggris. Oh, damn its true..tapi apa boleh buat, saya berbekal peta, buku informasi dan juga papan petunjuk arah untuk terus melanjutkan pengembaraan.
Oh, iya, supir taksi disini banyak yang senang memanfaatkan kesempatan turis asing, dengan menaikkan harga argo taksi yang tidak masuk akal. Saya juga sempat jadi korbannya. Bayangkan, untuk jarak lebih kurang 7 km saja yaitu dari penginapan menuju bandara, saya (yang ketika itu  naik taksi bersama 3 teman saya) harus membayar 434.000 Dong, atau setara dengan Rp 210.000!! Sudah gitu, supir taksi masih minta tambahan sekitar Rp 35.000 atau 80.000 Dong untuk keluar bandara. What??!!!
Huaahh, actually, saya tetap rindu dengan negara ini. HCMC tetap memberikan suatu foot print yang indah bagi perjalanan saya. Saya juga jadi semakin mencintai negara saya sendiri (;p). Dan itu dia, petugas bandara telah melakukan panggilan, artinya saya harus segara meninggalkan negara Mr.Nguyen ini, sebab gate d5 dimana saya harus checkin pulang sudah dibuka. Gate yang sangat rapi dan tampak eksklusif. Ditambah lagi dengan fasilitas dan bangunan bandara Than Son Nath yang juga istimewa, bandara dengan apron dan luas yang sangat besar. Kemewahan yang sempurna untuk para pelancong. Dan tentu berbanding terbalik dengan kehidupan beberapa warga Vietnam yang hidup di luar sana, apalagi yang tinggal di perbatasan. Tapi, walau bagaimanapun, negara ini mampu membentuk senyum simpul di bibir saya. Ah,Vietnam, banyak cerita tentangmu.  Oh, God, biarkan kaki ini menginjak di tanah ranjau itu,melihat cerita berbeda negara berbendera bintang itu, sekali lagi…..

Image
Atau beberapa kali juga boleh 🙂

Advertisements